PERKEMBANGAN PADA MASA BANI UMAYYAH
Masa
pemerintahan bani Umayyah terkenal sebagai suatu era agresif, dimana perhatian tertumpu
pada usaha perluasan wilayah dan penaklukan, yang terhenti sejak zaman kedua
Khulafaur Rashidin terakhir. Hanya dalam jangka waktu 90 tahun banyak bangsa di
empat penjuru mata angin beramai-ramai masuk kedalam kekuasaan Islam yang
meliputi tanah Spanyol, seluruh wilayah Afrika Utara, Jazirah Arab, Syiria,
Palistina, sebagian daerah Anatolia, Irak, Persia, Afghanistan dan negeri yang
sekarang dinamakan Turkmenistan, Uzbekistan dan
Kirgiztan
yang termasuk Soviet Rusia. Penaklukan militer di zaman „Umayyah
mencakup
tiga front penting yaitu sebagi berikut: Pertama, front melawan bangsa romawi
di Asia kecil dengan sasaran utama pengepungan ke Ibukota Konstantinopel dan
penyerangan ke pulau-pulau di laut tengah. Kedua, front Afrika Utara, selain
menundukkan daerah hitam Afrika, pasukan muslim juga menyeberangi selat
Gibraltar lalu masuk ke Spanyol. Ketiga, front timur menghadapi wilayah sangat
luas sehingga operasi di jalur ini dibagi menjadi 2 arah, yang satu menuju ke
utara ke daerah-daerah seberang sungai Jihun (Ammu Darya), sedangkan yang
lainnya kearah selatan menyusuri sind wilayah India bagian barat.
(Sumartini,1995:31-32) Saat-saat yang paling mengesankan dalam ekspansi ini
ialah pada paruh
pertama
dari seluruh masa pemerintahan bani „Umayyah yaitu ketika kedaulatan dipegang
oleh Mu‟awiyah bin Abi Sufyan dan tahun
-tahun
terakhir dari zaman kekuasaan Abdul Malik. Diluar masa-masa tersebut,
usaha-usah penaklukan mengalami degradasi atau hanya mencapai
kemenangan-kemenangan yang sangat tipis.
Ekspansi ke
timur yang telah dirintis oleh Mu‟awiyah, lalu disempurnakan
oleh
khalifah Abdul Malik. Dibawah komando gubernur Irak, Hajjaj bin Yusuf, tentara
kaum muslimin menyeberangi sungai Ammu Darya dan menundukkan Balkh, Bukhara,
Khawarizm, Farghana dan Samarkand. Pasukan Islam juga melalui Makran masuk ke
Balukhistan, Sind dan Punjab sampai ke Multan, Islam menginjakkan kakinya untuk
pertama kali di bumi India. Kemudian tiba pada masa kekuasaan Al-Walid I yang
disebut-sebut sebagai masa kemenangan yang luas.
Prestasi
yang lebih besar dicapai oleh Al-Walid I adalah di front Afrika utara dan
sekitarnya. Disamping keberhasilan tersebut, Bani
„Umayyah
juga
banyak
berjasa dalam pembangunan berbagai bidang, baik politik atau tata
pemerintahan
maupun sosial kebudayaan. Dalam bidang politik, Bani „Umayyah
menyusun
tata pemerintahan yang sama sekali baru.
Kemudian
dalam bidang sosial, Bani „Umayy
ah mulai
membuka hubungan dengan bangsa-bangsa lain seperti Persia, Mesir, Eropa dan
sebagainya, yang kemudian melahirkan asimilasi dalam bidang seni dan ilmu
pengetahuan. Dalam bidang seni, yang berkembang adalah seni arsitektur
(bangunan). Salah satu pencapaiannya yaitu dibangunnya kubah Ash-Shakhra di
Yerussalem yang hingga kini masih ada dan menjadi bukti keemasan zaman Islam.
Dalam bidang seni yang lain yakni seni sastra yang menelurkan
sastrawan-sastrawan terkemuka seperti Al-Ahtal, Farazdaq, Jurair dan lain-lain.
Kemajuan yang lain adalah dalam hal peradaban yang terbagi menjadi
pengembangan bahasa dan pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam bidang ini,
Bani Umayyah telah menemukan jalur yanng lebih luas dalam kancah
pengembangan bahasa dan ilmu pengetahuan dengan bahsa Arab sebagai
pengantarnya.
beberapa Perkebangan dinasti bani umayyah, diantaranya
adalah:
1. Sistem Pemerintahan
Karena proses
berdirinya pemerintahan Bani Umayyah tidak dilakukan secara demokratis dimana
pemimpinnya dipilih melalui musyawarah, melainkan dengan cara-cara yang tidak
baik dengan mengambil alih kekuasaan dari tangan Hasan bin Ali (41 H/661M)
akibatnya, terjadi beberapa perubahan prinsip dan berkembangnya corak
baru yang sangat mempengaruhi kekuasaan dan perkembangan umat Islam.
Diantaranya pemilihan khalifah dilakukan berdasarkan menunjuk langsung oleh
khalifah sebelumnya dengan cara mengangkat seorang putra mahkota yang
menjadi khalifah berikutnya.(Syukur,2009:72) Orang yang pertama kali menunjuk
putra mahkota adalah Muawiyah bin Abi Sufyan dengan mengangkat Yazib bin
Muawiyah. Sejak Muawiyah bin Abi Sufyan berkuasa (661 M-681 M), para penguasa
Bani Umayyah menunjuk
penggantinya
yang akan menggantikan kedudukannya kelak, hal ini terjadi karena Muawiyah
sendiri yang mempelopori proses dan sistem kerajaan dengan menunjuk Yazid
sebagai putra mahkota yang akan menggantikan kedudukannya kelak. Penunjukan ini
dilakukan Muawiyah atas saran Al-Mukhiran bin Sukan, agar terhindar dari pergolakan
dan konflik politik intern umat Islam seperti yang pernah terjadi pada
masa-masa sebelumnya. Sejak saat itu, sistem pemerintahan Dinasti Bani Umayyah
telah meninggalkan tradisi musyawarah untuk memilih pemimpin umat Islam. Untuk
mendapatkan pengesahan, para penguasa Dinasti Bani Umayyah kemudian
memerintahkan
para pemuka agama untuk melakukan sumpah setia (bai‟at)
dihadapan
sang khalifah. Padahal, sistem pengangkatan para penguasa seperti ini
bertentangan dengan prinsip dasar demokrasi dan ajaran permusyawaratan
Islam yang dilakukan Khulafaur Rasyidin. Selain terjadi perubahan dalm sistem
pemerintahan, pada masa pemerintahan Bani Umayyah juga terdapat perubahan
lain misalnya masalah Baitulmal. Pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin,
Baitulmal berfungsi sebagai harta kekayaan rakyat, dimana setiap warga Negara
memiliki hak yang sama terhadap harta tersebut. Akan tetapi sejak pemerintahan
Muawiyah bin Abi Sufyan, Baitulmal beralih kedudukannya menjadi harta kekayaan
keluarga raja seluruh penguasa Dinasti Bani Umayyah kecuali Umar bin Abdul Aziz
(717-729 M). Berikut nama-nama ke 14 khalifah Dinasti Bani Umayyah yang
berkuasa:
1.Muawiyah bin
Abi Sufyan (41-60 H/661-680 M)
2.Yazid bin
Muawiyah (60-64 M/680-683 M)
3.Muawiyah bin
Yazid (64-64 H/683-683 M)
4.Marwan bin
Hakam (64-65 H/683-685 M)
5.Abdul Malik
bin Marwan (65-86 H/685-705 M)
6.Walid bin
Abdul Malik (86-96 H/705-715 M)
7.Sulaiman bin
Abdul Malik (96-99 H/715-717 M)
8.Umar bin
Abdul Aziz (99-101 H/717-720 M)
9.Yazid bin
Abdul Malik (101-105 H/720-724)
10.Hisyam bin
Abdul Malik (105-125 H/724-743 M)
11.Walid bin
Yazid (125-126 H/743-744 M)
12.Yazid bin
Walid (126-127 H/744-745 M)
13.Ibrahim bin
Walid (127-127 H/745-745 M)
14.Marwan bin
Muhammad (127-132 H/745-750 M)
Dalam lapangan sosial, Bani Umayyah
telah membuka terjadinya kontak antara bangsa-bangsa Muslim (Arab) dengan
negeri-negeri taklukan yang terkenal memiliki kebudayaan yang telah maju
seperti Persia, Mesir, Eropa dan sebagainya. Hal tersebut
bangsa
yangdikalahkan, yang kemudian mendapat gelar “al mawali”.
Status
tersebut menggambarkaninferioritas di tengah-tengah keangkuhan bangsa Arab.
Mereka tidak mendapat fasilitasdari penguasa Bani Umayyah sebagaimana yang
didapatkan oleh orang-orang musliminArab. Dalam masa Daulah Bani Umayyah,
orang-orang muslimin Arab memandang dirinyalebih mulia dari segala bangsa bukan
Arab (mawali). Orang-
orang Arab
memandang dirinya“saiyid” (tuan) atas bangsa bukan Arab, seakan
-akan mereka
dijadikan Tuhan untukmemerintah. Sehingga antara bangsa Arab dengan negeri
taklukannya terjadi jurangpemisah dalam hal pemberian hak-hak
bernegara.
.Pada saat itu banyak Khalifah Bani Umayyah yang bergaya hidup mewah yang
samasekali berbeda dengan para Khalifah sebelumnya. Meskipun demikian, mereka
tidakpernah melupakan orang-orang lemah, miskin dan cacat. Pada masa tersebut
dibangunberbagai panti untuk menampung dan menyantuni para yatim piatu,
faqir miskin danpenderita cacat. Untuk orang-orang yang terlibat dalam kegiatan
humanis tersebut merekadigaji oleh pemerintah secara tetap.
Label: sejarah

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda