Rabu, 24 September 2014

PERKEMBANGAN PADA MASA BANI UMAYYAH



Masa pemerintahan bani Umayyah terkenal sebagai suatu era agresif, dimana perhatian tertumpu pada usaha perluasan wilayah dan penaklukan, yang terhenti sejak zaman kedua Khulafaur Rashidin terakhir. Hanya dalam jangka waktu 90 tahun banyak bangsa di empat penjuru mata angin beramai-ramai masuk kedalam kekuasaan Islam yang meliputi tanah Spanyol, seluruh wilayah Afrika Utara, Jazirah Arab, Syiria, Palistina, sebagian daerah Anatolia, Irak, Persia, Afghanistan dan negeri yang sekarang dinamakan Turkmenistan, Uzbekistan dan
Kirgiztan yang termasuk Soviet Rusia. Penaklukan militer di zaman „Umayyah
mencakup tiga front penting yaitu sebagi berikut: Pertama, front melawan bangsa romawi di Asia kecil dengan sasaran utama pengepungan ke Ibukota Konstantinopel dan penyerangan ke pulau-pulau di laut tengah. Kedua, front Afrika Utara, selain menundukkan daerah hitam Afrika, pasukan muslim juga menyeberangi selat Gibraltar lalu masuk ke Spanyol. Ketiga, front timur menghadapi wilayah sangat luas sehingga operasi di jalur ini dibagi menjadi 2 arah, yang satu menuju ke utara ke daerah-daerah seberang sungai Jihun (Ammu Darya), sedangkan yang lainnya kearah selatan menyusuri sind wilayah India bagian barat. (Sumartini,1995:31-32) Saat-saat yang paling mengesankan dalam ekspansi ini ialah pada paruh
 pertama dari seluruh masa pemerintahan bani „Umayyah yaitu ketika kedaulatan dipegang oleh Mu‟awiyah bin Abi Sufyan dan tahun
-tahun terakhir dari zaman kekuasaan Abdul Malik. Diluar masa-masa tersebut, usaha-usah penaklukan mengalami degradasi atau hanya mencapai kemenangan-kemenangan yang sangat tipis.
Ekspansi ke timur yang telah dirintis oleh Mu‟awiyah, lalu disempurnakan
oleh khalifah Abdul Malik. Dibawah komando gubernur Irak, Hajjaj bin Yusuf, tentara kaum muslimin menyeberangi sungai Ammu Darya dan menundukkan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Farghana dan Samarkand. Pasukan Islam juga melalui Makran masuk ke Balukhistan, Sind dan Punjab sampai ke Multan, Islam menginjakkan kakinya untuk pertama kali di bumi India. Kemudian tiba pada masa kekuasaan Al-Walid I yang disebut-sebut sebagai masa kemenangan yang luas.
 
 Prestasi yang lebih besar dicapai oleh Al-Walid I adalah di front Afrika utara dan sekitarnya. Disamping keberhasilan tersebut, Bani
„Umayyah juga
 banyak berjasa dalam pembangunan berbagai bidang, baik politik atau tata
 pemerintahan maupun sosial kebudayaan. Dalam bidang politik, Bani „Umayyah
menyusun tata pemerintahan yang sama sekali baru.
Kemudian dalam bidang sosial, Bani „Umayy
ah mulai membuka hubungan dengan bangsa-bangsa lain seperti Persia, Mesir, Eropa dan sebagainya, yang kemudian melahirkan asimilasi dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan. Dalam bidang seni, yang berkembang adalah seni arsitektur (bangunan). Salah satu pencapaiannya yaitu dibangunnya kubah Ash-Shakhra di Yerussalem yang hingga kini masih ada dan menjadi bukti keemasan zaman Islam. Dalam bidang seni yang lain yakni seni sastra yang menelurkan sastrawan-sastrawan terkemuka seperti Al-Ahtal, Farazdaq, Jurair dan lain-lain. Kemajuan yang lain adalah dalam hal peradaban yang terbagi menjadi  pengembangan bahasa dan pengembangan ilmu pengetahuan. Dalam bidang ini, Bani Umayyah telah menemukan jalur yanng lebih luas dalam kancah  pengembangan bahasa dan ilmu pengetahuan dengan bahsa Arab sebagai  pengantarnya.


beberapa Perkebangan dinasti bani umayyah, diantaranya
 adalah: 
1. Sistem Pemerintahan 
         Karena proses berdirinya pemerintahan Bani Umayyah tidak dilakukan secara demokratis dimana pemimpinnya dipilih melalui musyawarah, melainkan dengan cara-cara yang tidak baik dengan mengambil alih kekuasaan dari tangan Hasan bin Ali (41 H/661M) akibatnya, terjadi beberapa perubahan prinsip dan  berkembangnya corak baru yang sangat mempengaruhi kekuasaan dan  perkembangan umat Islam. Diantaranya pemilihan khalifah dilakukan berdasarkan menunjuk langsung oleh khalifah sebelumnya dengan cara mengangkat seorang  putra mahkota yang menjadi khalifah berikutnya.(Syukur,2009:72) Orang yang pertama kali menunjuk putra mahkota adalah Muawiyah bin Abi Sufyan dengan mengangkat Yazib bin Muawiyah. Sejak Muawiyah bin Abi Sufyan berkuasa (661 M-681 M), para penguasa Bani Umayyah menunjuk
 
 penggantinya yang akan menggantikan kedudukannya kelak, hal ini terjadi karena Muawiyah sendiri yang mempelopori proses dan sistem kerajaan dengan menunjuk Yazid sebagai putra mahkota yang akan menggantikan kedudukannya kelak. Penunjukan ini dilakukan Muawiyah atas saran Al-Mukhiran bin Sukan, agar terhindar dari pergolakan dan konflik politik intern umat Islam seperti yang  pernah terjadi pada masa-masa sebelumnya. Sejak saat itu, sistem pemerintahan Dinasti Bani Umayyah telah meninggalkan tradisi musyawarah untuk memilih pemimpin umat Islam. Untuk mendapatkan pengesahan, para penguasa Dinasti Bani Umayyah kemudian
memerintahkan para pemuka agama untuk melakukan sumpah setia (bai‟at)
dihadapan sang khalifah. Padahal, sistem pengangkatan para penguasa seperti ini  bertentangan dengan prinsip dasar demokrasi dan ajaran permusyawaratan Islam yang dilakukan Khulafaur Rasyidin. Selain terjadi perubahan dalm sistem pemerintahan, pada masa  pemerintahan Bani Umayyah juga terdapat perubahan lain misalnya masalah Baitulmal. Pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin, Baitulmal berfungsi sebagai harta kekayaan rakyat, dimana setiap warga Negara memiliki hak yang sama terhadap harta tersebut. Akan tetapi sejak pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan, Baitulmal beralih kedudukannya menjadi harta kekayaan keluarga raja seluruh penguasa Dinasti Bani Umayyah kecuali Umar bin Abdul Aziz (717-729 M). Berikut nama-nama ke 14 khalifah Dinasti Bani Umayyah yang berkuasa:
1.Muawiyah bin Abi Sufyan (41-60 H/661-680 M) 
2.Yazid bin Muawiyah (60-64 M/680-683 M) 
3.Muawiyah bin Yazid (64-64 H/683-683 M) 
4.Marwan bin Hakam (64-65 H/683-685 M) 
5.Abdul Malik bin Marwan (65-86 H/685-705 M) 
6.Walid bin Abdul Malik (86-96 H/705-715 M) 
7.Sulaiman bin Abdul Malik (96-99 H/715-717 M)
 8.Umar bin Abdul Aziz (99-101 H/717-720 M) 
9.Yazid bin Abdul Malik (101-105 H/720-724) 
10.Hisyam bin Abdul Malik (105-125 H/724-743 M) 
11.Walid bin Yazid (125-126 H/743-744 M)
12.Yazid bin Walid (126-127 H/744-745 M)
13.Ibrahim bin Walid (127-127 H/745-745 M) 
14.Marwan bin Muhammad (127-132 H/745-750 M) 
2.Sistem Sosial
            Dalam lapangan sosial, Bani Umayyah telah membuka terjadinya kontak antara bangsa-bangsa Muslim (Arab) dengan negeri-negeri taklukan yang terkenal memiliki kebudayaan yang telah maju seperti Persia, Mesir, Eropa dan sebagainya. Hal tersebut
 bangsa yangdikalahkan, yang kemudian mendapat gelar “al mawali”.
Status tersebut menggambarkaninferioritas di tengah-tengah keangkuhan bangsa Arab. Mereka tidak mendapat fasilitasdari penguasa Bani Umayyah sebagaimana yang didapatkan oleh orang-orang musliminArab. Dalam masa Daulah Bani Umayyah, orang-orang muslimin Arab memandang dirinyalebih mulia dari segala bangsa bukan Arab (mawali). Orang-
orang Arab memandang dirinya“saiyid” (tuan) atas bangsa bukan Arab, seakan
-akan mereka dijadikan Tuhan untukmemerintah. Sehingga antara bangsa Arab dengan negeri taklukannya terjadi jurangpemisah dalam hal pemberian hak-hak
 
 bernegara. .Pada saat itu banyak Khalifah Bani Umayyah yang bergaya hidup mewah yang samasekali berbeda dengan para Khalifah sebelumnya. Meskipun demikian, mereka tidakpernah melupakan orang-orang lemah, miskin dan cacat. Pada masa tersebut dibangunberbagai panti untuk menampung dan menyantuni  para yatim piatu, faqir miskin danpenderita cacat. Untuk orang-orang yang terlibat dalam kegiatan humanis tersebut merekadigaji oleh pemerintah secara tetap.


 


Label:

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda